Postingan

Hujan yang Tak Pernah Kembali

(Setelah) Jatuh, dengan acak dan bebas. Siapa yang lebih berani; Siapa lagi yang lebih yakin daripada hujan yang tak pernah kembali ke pangkuan kawanan awan yang mengandungnya di sepanjang kemarau; lalu. Justru membumi bersama jasad-jasad mati, yang tak pernah (jua) lagi menghirup aroma hujan yang angu.

Sajak Sundak

Tak ada yang lebih ngeri selain sajak sundak. Melekapkan kelopak Menggelorakan kantuk, menelusuk nafas-nafas malam, yang ringin dingin Berkunjung pada seluruh mimpi, juga kesedihan-kesedihan. Semantik sepi dan Aku, jauh dan Kamu. Menyatakan jarak dengan kukuh diantara sesak kenang.

Sarcasm

Kalimat yang tajamnya melebihi pedang Menjurus yang tak hanya menembus leher Menyobek hipokondria tanpa mengeluarkan darah "Mengapa kau harus menunggu Untuk merawat Untuk mendoakan Untuk bertemu Untuk berkabar Untuk mengasihi Untuk mengobati Untuk memberi bunga Untuk bergabung Mengapa kau harus menunggu Aku Mati!"                                              Agustus, Mojokerto 

Apa itu merdeka? 2

  "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa" Terngiang pembukaan peraturan yang dibuat dengan Rima padat Namun sejurus hilang sakral maklumat Akibat ulah rakus kelompok sejawat Pencucian uang besar-besaran dilakukan besan Seolah dianggap wajar dan menjadi delik aduan Semua terukur, terstruktur secara strata  Bebas bersyarat dengan pembagian rata Jangan sertakan logika dalam alasan kuasa Banyak hal memang diluar nalar sekolah dasar Instansi perawat moral yang mengajari mencuri Dengan mencuci akibat sedikit dari gaji Branding mutakhir ibu kota Dengan target market penduduknya Cerminan yang sedikit menggeleng kepala Adakah negara berbisnis pada rakyatnya? Penjajah yang menjelajah kasat mata Dikalahkan oleh sekelompok ahli sinyal tanpa tanda Tak ada lagi yang sadar akan bahaya Sebab kita tak mengenal ancamannya Terkesan sangat tidak sederhana Begitu rumitnya mengurus negara Apalagi menguras sekuat sumber dayanya Dengan akal 4.0 mustahil mengatasinya Hirap rasa c...

Apa itu merdeka?

 Banyak orang bilang merdeka Padahal aku sendiri tak tahu maknanya Yang ku tahu seorang anak kecil merintih menahan lapar Karena nasinya di ambil kucing liar Hampir setiap orang berteriak merdeka Aku sendiri garuk garuk melihatnya Terherankan oleh ibu yang menangis meronta Karena rumahnya digusur oleh petugas negara secara paksa Seluruh negeri tahu sekarang hari merdekanya Padahal aku sendiri masih bingung melihatnya Seorang gadis menangis histeris Karena tahu dirinya tak lagi gadis Apa arti merdeka Entahlah aku tak tahu juga Akan kutanyakan pada anjing tuan rudi Yang setiap harinya tak pernah mati.                                        Kediri, Agustus 2018

Kabutnya si Badut

Akulah tuan rumah segala malam. Malam yang dingin, sepi, hening, basah, kaku, atau kacau. Dasar malam-malam yang tak pernah berlaku indah! Oh, Lalu sebagai tuan rumah malam yang penuh gelora. Gelora yang selalu kau simpan di sebelah tangan. Hati mana yang tak penasaran? Sial sekali, tangan kita mungkin tak akan pernah saling mengasihi. Di selangkang langit dan bebintang yang berselingkit. Masih terperangkap oleh cinta yang runtuh dan menghantam kesendirian. Kau taruh sebelah tanganmu dalam saku, dalam sekali. Sembari menggenggam gelora yang tak pernah terlihat mata. Lengkung bibirmu, lesung pipimu, perlahan mulai pudar. Semakin malam. padam. Keheningan langit yang luas. Membangkitkan isak, teriak, dan parau dari rongga kesedihan. Lalu, Kau pukuli dadamu yang rapuh itu. Tega sekali tangan dan jemarimu begitu. Runtuhlah seluruh kenangan yang kau simpan di dalamnya. Suara runtuhnya bahkan membuat merinding sepi. Sepi ciut nyali. Apakah ria telah kehabisan waktu? Atau malah terlalu b...

Romeo Terakhir

Seperti Romeo Julia yang lain, kita menjadi kisah roman tragis tak berujung. Menjadi opera nyata ribuan mata. Pengabaian besar dan perjuangan melawan penolakan mutlak. Kau juga tahu, kekuatanku sebatas bersamamu, mengontrol jiwa dan pikiranku. Jika angin telah berubah arah, dan Ia menujumu. Percayalah! Angin membawa seluruh cita sepanjang jalan.  Menyeka segala kekhawatiran. Aku tak pernah mengira dunia menciptakan dirimu dibanyak cerita lawas utamanya. Suatu ketidakadilan bagi seluruh jiwaku yang memuja dirimu harus mengakui Romeo-Romeo sebelumnya. Seperti memakan semua biji sekantong penuh. Tentu lidah dan kedua bibirku menolak kenikmatan selain dirimu seorang. Cium aku, cumbui aku! Menyatulah bersama peluh yang menghujani asa kita Hingga sampai pada waktu kita tidak bisa menyatu. Mengukur seberapa luas samudra dan laut biru. Membaca lagi cerita-cerita lama hingga melihat dan berdebat sebetapa indah merak daripada burung onta Atau memperkirakan takdir kita, cita atau duka.

Cinta

Adalah anatomi nan berparas Adalah setiap desas-desus nafas Adalah segala pikiran tanpa bias Adalah menyeluruh dengan ikhlas Seperti daun yang bergoyang dan tunduk Seperti singa yang memburu rusa Seperti anjing dengan lidahnya Seperti babi yang menggeliat di lumpurnya Adalah  Kesadaran dengan kewaspadaan Kesadaran atas kekosongan Kesadaran pada keramaian Kesadaran tanpa rumusan Ialah Berasal dari gumpalan Sebab gelombang yang bertabrakan Berupa silika cahaya Kosmos mereka biasa menyebutnya

Kesepian Bersama

Kita adalah kesepian bersama Mengitari tata surya yang sunyi, berdua Tak ada bintang-bintang, bulan, matahari, bahkan cinta kita. Demi seluruh apa kau berani menyerahkan diri kepada ketiadaan rasa?  Bukan sekedar miris, kekasih. Ini terlampau tragis. Sialnya, kita telah menyatu menjadi kenangan. Juga, kita terlalu larut sampai kalut. Sudah pasti, tak akan ada yang bisa menyelamatkan kecuali kita sendiri. Lalu, jika waktunya telah tiba, kita akan turun bersama. Entah sebagai hujan yang menghapus seluruh kesedihan kita, atau sebagai pelangi yang menghiasi harapan-harapan kita.

Rusuk-Rusuk Rusak

Berapa kali; Awan menyisir seluruh kesedihan yang kau terbangkan ke langit? Kenyataan bahwa ia tak pernah letih adalah pukulan telak terhadap harapan yang kau gaungkan kepada Penghuni langit. Seberapa dalam jua luka telah menganga, menjadi ngarai bagi rusuk-rusuk rusak. Adalah kabut; seluruh isak tangis telah menguap. Mengubur rusuk-rusuk rusak dari buruan koloni burung bangkai. Bahkan kabut tak rela, rusuk-rusuk akan lebih rusak lagi dan kecewa lagi. Rapuh; Lalu suatu waktu, jikalau kabut dengan terpaksa meninggalkan dan tak sanggup lagi membantu. Apakah rusuk-rusuk rusak itu menjadi buruan, atau malah menjadi debu dan memandikan seluruh permukaan luka menjadi padang pasir debu?

Sabana (Kedua)

Aku menghampiri Sing a  Mencoba berkompromi  Seandainya taring diganti saja  Dengan sinyal gelombang frekuensi Juga aku menyapa Surya  Mengapa sinarnya tak merasuk  Biasanya menyebar luas bukankah Ternyata sensor gamaku payah  Aku mengambil jeda antara singa dan Surya  Hampir ku teguk sebotol zam-zam Spontan teringat mereka  Bingung dengan opsi buatanku sendiri  Jika ku berikan pada singa  Perburuannya semakin seru  Tapi cara menghilangkan dahaga Surya  Bagaimana bisa?

Sabana (Kesatu)

Bukan gersang  Hanya tandus Tak terhalang  Mampus Congkak Surya  Dengan gagahnya  Mencela singa  Mengaum dahaga  Diantara singa dan Surya  Lamunan perjaka  Lebih utama  Kata tamtama  Sebab ketika murka  Ia lebih perkasa  Dari ribuan singa Bahkan surya

Gradasi Tirani

Aliran darah membeku  Stomata kebutuhan menutup Diapit oleh faktitus sederhana Visus junta buta sejak lama Dentang Genta krisis begitu miris Terdengar nyaring pada koklea Kolesteatoma didera tuna wacana Sebab kurikulum untuk kerja nyata Tak ada Siwa, Wisnu bahkan Brahma Yesus menangis karena kasihnya nyata Buddha sudah lama meninggalkan dunia Keriput wajah masih ingin meraja                                                           Blitar

Sekarat

  Dalam puncak kesekaratan Bintang-bintang berserakan di kepala Ombak laut menerjang gigi geraham Bibir pecah dihantam botol keras-keras Merah-merah mengalir pelan Entah itu sari anggur atau darah penghabisan Arrghh! Susah amat ingin mati Kenapa tak semudah korupsi Tinggal ambil ini dan itu Selesai sudah, Asu Izrail! Cabut aku dari kehidupan yang neraka ini Aku muak melihat istri dan juga televisi Keduanya merengek minta dipercaya Padahal aku tahu semua itu adalah dusta Meski dari omongan tetangga Izrail dengan nada sedikit mengejek bertanya Ingin pergi dari neraka kelas ekonomi untuk ke neraka kelas VIP? Tentu dengan senang hati Tunggu, Izrail Aku tarik semua doa-doaku Sampaikan juga kepada Tuhan Bahwa aku tidak jadi merengek minta dimatikan, karena Aku kira kematian sesurga demikian Sampanahan, 1 November '21

Tarian Pandemi

Dilema Corona tak kunjung reda Tak jarang menimbulkan drama Hanya melawan virus tak kasat mata Mereka menyiksa manusia dengan nyata Dalih mengucapkan demi keselamatan bersama Mereka mengancam nyawa pekerja yang nyaris menyapa rongga Aparatur dengan jelas menengkurapkan akhlak negara Masih pantaskah mereka menarik iuran wajib pada korbannya? ~ Sya Lala Lala semakin lama tragedi yang             menjadi komedi    Kini tengah dikonsumsi orang banyak sekali Kini pertentangan semakin ketat Mereka beradu argumen dengan hebat Antara pembela rakyat dengan pejabat Sama-sama punya dalil dengan sanad kuat Pertarungan masih bernilai seri Pembela rakyat melumat pejabat Pejabat membuat mufakat laknat Hasil dilanjut babak babat-membabat Nyawa manusia dianggap sederhana Ketika bencana datang melanda Mereka berkata takdir maha kuasa Secara orang awam tidak tahu kausa

Pesanku Untuk yang di sana

Pesanku untuk dia yang di sana Sayangi keluargamu seperti mereka mengasihimu hingga dewasa Jangan larut dalam sedih, selipkan sedikit tawa Jangan belenggu dirimu tetaplah bahagia Kaulah pencipta suasana Pesanku untuk dia di seberang kota Jangan sesekali kepada Tuhan kamu lupa Apalagi tidak pernah bercumbu dengan-Nya Kau sendiri mungkin ragu kepada-Nya Bahwa Dia lebih dekat dari frekuensi suara Pesanku untuk dia yang mungkin di desa Kamu harapan yang dipupuk sedemikian dalam Untuk mendapati samudera ilmu pengetahuan Jangan biarkan mereka tenggelam pada kekecewaan Karena bagi mereka kamu harapan dalam angan Pesanku untuk dia yang Mungkin terakhir kalinya Jangan biarkan dirimu tersakiti dengan sendirinya Dan jangan biarkan aku tersakiti selain engkau pelakunya Mojokerto, 27 Maret.

Dikelabui Emosi

Hari ini saya mendapat sebuah pelajaran, diingatkan Tuhan. Bahwa saya dikelabui emosi. Bagaimana emosi mampu mengendalikan 100 persen diri kita. Tanpa sisa. Parahnya, hingga mendoktrin kawan saya yang kemudian bahu-membahu menghakimi seseorang tanpa belas kasih. Hingga di suatu ketika dia seakan membayar lunas apa yang telah ditimpakan pada dirinya. Saya terperangah dan mencoba memasang wajah tak bersalah.  Wajah saya seakan tertampar keras! Dari situ, saya memahami... Menimpakan keburukan pada diri seseorang bukanlah hal yang keren dan patut dibanggakan. Siapa pula yang mau mengapresiasi hal demikian? Nothing! Perihal emosi, sebetulnya bukan sepenuhnya tentang hal negatif. Emosi memiliki dua sisi berbeda seperti sekeping uang koin. Positif dan negatif adalah kedua sisi tersebut. Emosi positif bagi saya adalah emosi yang mampu mendorong kita untuk melakukan hal-hal baik sampai pada tingkat produktif. Seperti slogan dari blog ini, SEBUAH PEMBERDAYAAN EMOSI. Kami mencoba memberday...

Sosok Beliau

Gundah, sedih Tak enak hati Takut pergi Akal sedikit terisi Diriku sepi Jangan tuhan  Amat jangan Ku mohon panjangkan Jangan sekarang Aku butuh bimbingan Aku tak sanggup kehilangan Sosok penuh wibawa Semua menghormatinya Dan banyak mengamatinya Tak bisa aku melihatnya Bila sekarang kau memanggilnya Tuhan beri waktu lebih lama Tuk sejenak hidup semasanya Karena aku butuh ilmunya Sekali lagi tuhan Beri beliau kesempatan Masih banyak orang kesesatan Ku tahu kau maha mendengarkan Jangan tuhan Tuhan, jangan Ku harap kau kabulkan Doa, pendosa sampaikan.                                                        Kediri, 2017

Pudar

  Lamunku meniadakanmu  Bukan karena tiada wujudmu  Hariku cerah tanpa mengingatmu  Meski semua butuh peringatanmu  Mengingat hanya untuk kebutuhan  Adalah sosok yang tak jantan  Sesekali kulihat semua berkilauan  Tanpa butuh suatu ikatan sentuhan  Aku malu dengan sosok lemahku  Yang tak mampu meninggalkan luka dengan laku  Namun secepatnya aku lupa kau  Sungguh aku tak punya malu                                                                                                 Mojokerto, Januari 2021

Belajar Bersyukur dari Tiupan Peluit di Persimpangan Jalan

     Hari ini aku bersiap menuju kampus di kotaku. Keperluan sepele memaksaku berdandan rapi dengan standar anak  kuliahan . Buku-buku yang semula aku pinjam dari perpustakaan sebelum pandemi melanda, kini harus kembali menuju rak istimewa di kota sana. Tempat dimana orang-orang begitu membutuhkan, tak seperti di rumahku yang terabaikan.  Perpustakaan memang menyenangkan. Tentu bagi mereka yang gemar baca tulisan. Atau barangkali mereka yang dikejar  deadline  tugas untuk segera dikumpulkan. Aduh! Seusai melakukan serah-terima buku pinjaman dengan seorang pustakawan, Kaki ku merengek segera minta kembali ke kediaman. Padahal, mataku sedang ingin cuci mata. Melihat para mahasiswi berkeliaran dengan paras cantik jelita.         Di perjalanan pulang, aku memikirkan apa yang harus kulakukan setelah sampai di tempat berbaring? Tentu hal-hal menyenangkan kubayangkan. Barangkali  menghubungi doi sekedar untuk bertanya kaba...