Musim-musim
Di musim kemarau yang berangin parau Tatapanmu menggersang Menerka jauh, padaku, pada tanah-tanah yang retak, juga yang berdahaga Dengan begitu erat Kau mendekap awan yang mengandung hujan awan membatu, tentu Kaulah Sang Tuan Tiada jalan yang mampu maka kedua mataku berlinang getir ah, ke mana air itu jatuh mengalir, mengisi tanah-tanah yang retak, juga yang berdahaga, atau hanya tergenang, terkenang, lalu menghilang Meski begitu, dekapanmu tak luruh, juga tatapanmu yang menggersang itu.